Sekolah di Negeri atau Swasta? Bagiku Sama Saja!

Masihkah ada yang bingung untuk menentukan sekolah negeri atau swasta? Atau masih ada yang suka saling nyinyir? Duh, gak usah deh ya, saling deskriminasi antara sekolah swasta atau negeri. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita tumbuh dan berkembang di sekolah tersebut, entah itu negeri atau swasta. Baik itu sekolah favorite maupun sekolah biasa.


Seperti yang ditulis Mba Mei dalam postingan PilihSekolah Negeri atau Sekolah Swasta? kalau bisa lihat dulu, bibit, bebet dan bobotnya. Yah, pada tahu kan ya zaman sekarang gak di sekolah negeri atau swasta pasti selalu ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti bullying yang ngerinya sampai menyebabkan kematian. Kalau zamannya aku SMA yang lebih terkenal kenakalannya itu anak-anak swasta. Sekarang? Gak ngaruh kan mau negeri atau swasta? Memang si kasus kejahatan seperti itu tidak sepenuhnya kesalahan sekolah, namun sayangnya sekolah pun kena getahnya juga.

Bagi aku sendiri, mau sekolah negeri atau swasta sama saja. Karena aku lahir di kampung, untuk urusan sekolah bukanlah hal yang rumit. Tidak dipusingkan dengan urusan sekolah apa, dimana, wong hanya ada satu sekolah SD di kelurahanku. SMP yang dekat rumah juga hanya ada satu. Sekolah lainnya pada jauh. Ke SMP terdekat saja harus jalan kaki 30 menit, ngapain juga cari sekolah jauh yang jaraknya puluhan kilo. Seandainya seperti di kota yang berhamburan angkutan umum jauh sekalipun tidak ada masalah. Di kampungku yang namanya kendaraan umum itu gak ada. Jalan satu-satunya ya ngojek. Beratnya itu di ongkos loh karena mahal. Jadi gak pernah deh ada keinginan untuk sekolah jauh-jauh.

Namun, menjelang lulus SMP barulah yang namanya ingin melanjutkan kemana itu penting. Sekolah negeri 1, 2, 3 menjadi favorite anak SMP se-kabupaten, bahkan bagi orang tua sendiri. Kalau bisa masuk ke sekolah tersebut, punya kebanggaan tersendiri karena akan di cap anak pintar dan pandai. Aku si sadar diri berhubung nilai UN gak memungkinkan masuk ke tiga sekolah tersebut, akhirnya aku memilih sekolah negeri biasa. Yang jadi pertimbangan adalah sekolah terdekat harus ngeluarin ongkos banyak. Mendingan jauh sekalian, karena setelah dihitung-hitung lebih ekonomis walaupun kos.  

Btw, SMA-ku terkenal dengan sekolah buangan loh. Mau menyangkal pun gak bisa karena kebanyakan yang tidak masuk ke sekolah favorite memilih sekolah di tempatku. Tapi da aku mah masa bodo. Mau dikatain sekolah buangan, apa lah, sama sekali tidak berpengaruh.

Aku punya cita-cita, di mana pun aku berada harus tetap belajar dan belajar. Buktinya teman sebangku, sahabat karib, yang suka berbagi rumus matematika saat ulangan diterima di UNDIP lewat jalur beasiswa. Aplikasiku gak diterima karena salah ngambil jurusan. Aku tuh punya keyakinan akan masuk juga kalau ngambil Kimia, namun terlalu mendengarkan saran orang lain yang akhirnya mengganti jurusan dan hasilnya gak diterima. Kesel sendiri waktu itu, setidaknya kalau ikutin kata hati, hasilnya diterima atau tidak gak akan kecewa banget. Andaikan Doraemon nyata, akan kupinjam alatnya untuk kembali ke masa itu dan aku akan tetap memilih jurusan Kimia. “Hoho’’

Untuk sekolah tinggi, aku kuliah di sekolah tinggi swasta di Cirebon ngambil jurusan Sastra Jepang. Sebelum aku lulus orang tua masih mempertanyakan kalau sudah lulus mau jadi apa? Yang pasti gak jadi orang karena aku memang orang. *LOL* Maklum si untuk biaya kuliah lebih besar dibandingkan SD, SMP dan SMA. Orang tua khawatir kalau masa depan aku menjadi buram. Karena ada yang satu kampung, dia sekolah di universitas negeri ternama di kota hujan, sayangnya tidak jadi apa-apa dan malah jadi gila. Entahlah, penyebabnya karena apa yang pasti orang tua sering menampakan wajah khawatirnya. Apalagi jurusan yang aku ambil bahasa Jepang yang kala itu tidak populer dibandingkan keguruan. Ditambah bukan sekolah ternama. Karenanya, aku dengan percaya dirinya meyakinkan orang tua bahwa aku bisa jadi apa saja, jadi guru bisa, kerja di perusahaan bisa. Itu adalah salah satu cara juga dalam membangun keteguhan hati untuk tetap berjuang sampai akhir. “eaa”

Buktinya, di tempat kerja sekarang, sekolah tidak berpengaruh. Gelar juga tidak terpakai. Hanya satu, keahlian bahasaku. Tapi, sepertinya akan berbeda jika kerja di BUMN. Latar belakang sekolah bakalan berpengaruh deh. Setidaknya punya nilai plus gitu. Karenanya untuk menentukan ingin sekolah/menyekolahkan di negeri atau swasta, hal berikut ini perlu dipertimbangkan :

  1. Biaya, sesuai atau tidaknya dengan kantong.
  2. Tujuan sekolah. Aku waktu memutuskan untuk kuliah berdasarkan apa yang ingin aku capai. Karena cita-citaku yang ingin menjadi seorang ahli kimia tidak tercapai. Aku memilih sekolah tinggi yang ada bahasa Jepangnya. Pergi ke negeri Sakura merupakan cita-cita lainnya. Walaupun belum terwujud, setidaknya ilmu yang aku dapat berguna bagi diri sendiri maupun di tempat kerja sekarang. Doakan saja ya, semoga atasan cepat memberangkatkan ke Jepang. Soalnya sudah dibahas dari 2016, namun belum terlaksana juga karena satu dari sekian alasan menghalangi. *Fufu*
  3. Pilih sekolah yang sesuai dengan nilai nem anak. Gak dipungkiri, hanya karena ingin dipandang lebih, sampai beli kursi karena nilai nem tidak mendukung. Sebaiknya pilih sekolah yang sesuai kemampuan anak. Walaupun kurikulum sama, tapi dari pengajaran pasti berbeda. Jangan sampai pada akhirnya anak menjadi tertekan.
  4. Fasilitas dan lingkungan sekolah. Sekarang ini banyak sekolah yang mulai berbenah diri dari segi fasilitas dan lainnya. Karena ini juga terjadi pada sekolah SMA-ku. Setelah dua tahun lulus, lingkungan sekolah jadi lebih hijau. Fasilitas semakin mendukung. Gak terdengar lagi tuh sebutan sekolah buangan. Lingkungan yang nyaman juga akan membuat suasana belajar sama nyamannya.
  5. Jarak. Boleh nih jadi bahan pertimbangan. Cari yang deket rumah/tempat kerja atau mau yang jauh sekalian.
So, saatnya untuk mengesampingkan status sekolah. Cz, pada akhirnya pribadilah yang menentukan kesuksesan diri sendiri. Tergantung bagaimana kita akan membawa langkah-langkah itu. Bagi orang tua, dukunglah cita-cita anak. Sebisa mungkin arahkan mau dibawa kemana impiannya.

_________________________________

Artikel ini sebagai tanggapan untuk postingan Pilih Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta  #KEBBloggingCollab Kelompok Dian Sastro


5 komentar:

  1. Alhamdulillah aku dulu berhasil masuk sma favorit dari smp swasta. Perjuangannya berat juga lho untuk bisa lulus. Sampe2 aku shalat tahajud tiap malem krn pengen masuk sma favoritku itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba. Kalau diusahain mah, insyaallah terwujud ya mba.

      Hapus
  2. Iya bener mb, sekarang kantor2 swasta ga begitu mementingkan lulusan mana.
    Tapi tetep sih harus mengingatkan bibit bebet dan bobotnya. Dulu saya sekolah di negeri jg maklum di kampung hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di kampung mah mau gimana lagi ya mba Mei, gak bisa milih ini, itu. Kalau di kota mah banyak, tapi tetep harus mempertimbangkan banyak hal ya mba.

      Hapus
  3. aq setuju ya sekarang gausah ladenin pandangan orang tentang sekolah buangan atau sekolah terkenal yg penting happy menjalaninya demi masa depan kebahagiaan dan kenyamanan juga penting. salam kenal mak Rin, semangat posting buat tema selanjutnya, keep blogging!

    BalasHapus

Recent

recentposts

Random

randomposts