PERSALINAN : Satu Hari yang Penuh Perjuangan

Hari Persallinan Itu pun Tiba...................




Sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat. Bukan pula hari-hari yang mudah dilalui. Namun,Bayi yang ada dalam kandungan selalu menguatkan, bahwa aku mampu melewati semuanya. Dengan diselingi beberapa drama yang terkadang bikin kesel, stres, seperti yang sudah  diceritakan dalam postingan sebelumnya "Hamil Anak Pertama Dengan Segala Dramanya.''

Then, sepertinya hidup itu memang gak apdol kalau gak ditaburi bumbu-bumbu drama. Gak beda jauh sama drama Korea yang gak ada habisnya. Yuhuuu............menjelang hari persalinan pun harus berkutat dulu dengan drama. Sebenarnya si gak bakalan jadi drama, kalau saja si Aa gak riweuh dan pikiran aku tak terusik dengan pertanyaan dan pernyataan yang malah menaburkan bumbu-bumbu drama itu. 

So, berdasarkan tanggal perkiraan persalinan harusnya 19 Mei 2017. Namun yang terjadi, tiga hari sebelum tanggal perkiraan tidak ada yang namanya kontraksi. Waktu itu masih santai ria sambil bikin quilling ngisi waktu luang. Banyak yang bilang juga kalau waktu persalinan itu bisa lebih cepat, bisa juga melewati batas yang ditentukan. Yah, tapi tetap saja kalau sering ditanya belum lahiran Rin? aku yang orangnya sedikit santai tapi riweuh jadi gak karuan gimana gitu ya. Apalagi si Aa, nyuruh terus periksa ke bidan, takut debay keracunan air ketuban dan segudang ketakutan lainnya. Sialnya nih, dikampung itu faskes-nya masih jauh dari kata cukup. Jadi, saat memutuskan untuk USG harus ke kota dengan jarak tempuh dari kampung kurang lebih satu jam.

Tambah gak karuan, mobil sewaan datangnya ngaret banget. Janji jam dua siang berangkat, eh datangnya jam empat. Si Aa yang jauh di sana sampai telepon ade-nya yang di kota buat jemput. Dan, drama pun tidak kelar-kelar karena sampai kota, dokter yang disarankan si Aa sedang cuti, padahal dari pagi sudah nanya berulang-ulang dokternya praktik apa tidak? Mendadak jadi kesal karena waktu sudah hampir magrib, untunglah ada satu apotek yang dokternya praktik. Lega! Seriusan lega banget. Perjalanan jauh gak sia-sia. Kondisi kandungan pun baik-baik saja, air ketuban sangat cukup. Dan dokternya bilang bahwa sudah pembukaan kedua. 

Besoknya, tanggal 25 Mei 2017, hari yang penuh perjuangan itu pun tiba. Senangnya, karena si Aa bela-belain cuti kerja buat ke Kuningan karena pengen banget ada di samping istri tercintanya jadi obat penguat. *ea* Mungkin Jasmine memang menunggu ayahnya karena saat si Aa tiba, malamnya anak pertama kami lahir. Anehnya aku yakin, Jasmine memang menunggu ayahnya. Waktu kandungan usia 7 bulan aku sudah mengalami kontraksi palsu. Lalu, si Aa bilang gini ''De, jangan keluar dulu ya belum waktunya.''

Jadi, paginya aku merasakan sakit yang tak biasa, pergilah ke rumah Uak yang juga seorang paraji alias dukun anak. Saran Uak telepon bidan aja atau tunggu sampai sore. Tadinya mau langsung telepon tapi si Aa lagi sibuk nyelesein berita buat besok, ditunggulah sampai sore sambil nahan sakit yang semakin tak kuat lagi.

Sekitar pukul empat lebih, pergi ke bidan dan ternyata sudah pembukaan 8. Persalinannya sendiri di puskemas karena niat awal mau pakai BPJS, yang ternyata gak bisa digunakan karena belum punya KK. Tiba di puskes setelah cek tensi darah, disuruh jalan, tapi aku langsung nolak karena sudah gak kuat dengan sakitnya. Sakit banget! Btw, kalau udah waktunya melahirkan itu rasanya perut mules kaya mau BAB. Tapi, aku gak merasakan mules melainkan rasa sakit yang semakin menjadi. Gak nunggu lama, air ketuban dipecahin sama bidannya dan disuruh ngeden. Proses inilah yang bikin bidan gemes, karena ngedennya gak kuat padahal katanya rambut bayi sudah kelihatan membuat proses persalinan sangat lama. Pukul 7 belum keluar juga, dan waktu semakin menipis karena sudah terlalu lama. Di sini Bidan yang ngurusin persalinan sangat gemas dan prustaai sendiri. *fufufu*

Akhirnya, bidan membantu ngeluarin debay dengan menekan perut. Alhamdulillah, pukul 7.45 lahirlah bayi perempuan yang diberi nama Jasmine Makaila Aththariq dengan berat 3.5 kg. Aku lega, suami lega, keluarga lega dan bidan pun ikut lega. *hoho*




Tapi kelegaan itu bertahan sebentar karena pas mau pulang aku gak bisa ngangkat kaki. Badan itu terasa berat, terpaksa harus digendong. Sedihnya sakit itu gak jua hilang selama tiga hari. Ke kamar mandi saja minta bantuan si bapak buat ngegendong. Sedih dan prustasi karena sudah besar masih saja merepotkan orang tua. Btw, katanya lahiran normal itu lebih enak dibanding cesar. Namun, tidak berlaku denganku. Entah apa penyebabnya yang pasti setiap kali melangkah kaki terasa berat membuat susah diangkat, dan bisa jalan normal setelah 10 hari.

Masalah lain pun tak kalah membuat sedih saat ASI tak mau keluar. Jasmine nangis kelaparan. Bidan ngelarang ngasih susu formula. Padahal apa salahnya ya ngasih susu formula untuk sementara. Akhirnya, aku memutuskan untuk memberi Jasmine susu formula . Aku percaya susu formula gak akan membuat anakku mati kok. 

Tunggu drama selanjutnya tentang ASI vs Susu Formula.

Noted :
Setelah diselidiki, sebenarnya ada penyebab kenapa proses persalinannya itu lama :
1. Ngantuk parah. Mata susah banget diajak melek sehingga berpengaruh saat 'ngeden'. Dengar dari beberapa orang mengalami hal yang sama. Kata orang tua si itu cobaan saat persalinan. 


2. Gak kuat menahan nafas lama-lama. Semasa hamil aku akui memang jarang olahraga. Jalan-jalan saja sekitar kosan doang yang jaraknya hanya 20m. Banyak jalan itu memang penting untuk ibu hamil! Terutama Ibu hamil yang bekerja dengan kondisi duduk lebih lama. Banyak duduk itu sangat tidak baik. 
Pengalaman istri driver, saat hamil anak ketiga karena istrinya lebih banyak duduk, tiduran, kurang olahraga, akhirnya harus operasi sesar. So, untuk bumil yang mau persalinan normal rutin olahraga dan jauhi stres!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent

recentposts

Random

randomposts