[Traveling] Weekend di Bali & Satu Jejak yang Tertinggal


Jujur postingan ini telat kebangetan, kalau makanan udah kadaluarsa nih. Tapi adakah kenangan yang kadaluarsa? Gak ada! Apalagi hal menyenangkan seperti menghabiskan akhir pekan di Bali. Yey… akhirnya genap di usiaku yang ke 24 dapat menginjakan kaki juga di tempat wisata terkenal ini *lebay*. Maklumin saja anak kampung seperti aku, bisa berkunjung ke Bali itu termasuk hal yang membanggakan. Secara gitu, Kuningan – Bali kan jauhnya gak ketulungan dan harus sedia budget gede. Lain halnya kalau aku anak pengusaha atau pejabat gak perlu pusing mikirin duit. Wong, aku sekedar anak petani yang bisa kuliah aja alhamdulillah banget.

Dari kecil aku memang tertarik banget mengunjungi Bali. Dulu kala, waktu jamannya aku masih bau kencur – bocah, Bapakku hijrah ke Bali mencari nafkah. Sebelum akhirnya beralih profesi jadi petani tulen, Bapak dulunya tukang bangunan. Walau sekedar tukang, Bapakku sudah keliling Indonesia loh. Dari Bali, Kalimantan, Sumatera dan Pulau Jawa. Jadinya kalo mendengar cerita si Bapak tentang Kuta, Nusa Dua, bawaannya itu gemes. Sering banget ngomong sendiri “aku bisa gak ya ke Bali?” atau “Aku kapan ke keliling Indonesia?”. Bikin envy banget deh, apalagi aku cewek kalau traveling jauh jarang mendapat ijin. Akhirnya cuma bisa menghayal sambil ngiitungin daun kelor. Beruntunglah pekerjaan sekarang membawaku ke tempat keren ini. 

Ceritanya, di awal tahun karyawan kantor pusat yang di Jepang berlibur ke Bali. Sekalian deh karyawan kantor cabang yang di Indonesia juga ikut. Anggap saja lagi ghatering. Rencana awal di Bali itu tiga hari dari tanggal 5-7 Februari 2016 bertepatan dengan imlek. Seninnya bisa istirahat di rumah. Namun, Setelah negara api menyerang – intermezzo. Jadwal pun berubah, jadinya dua hari, 30-31 Januari 2016. Jadi ceritanya menghabiskan weekend di Bali gitu.

Sabtu, 30 Januari 2016, Pukul 04.00 berangkat ke Bandara Soetta, sekitar pukul tujuhan baru deh terbang ke pulau yang dituju. Ternyata Bandara Ngurah Rai keren juga. Menuju pintu kedatangan itu ada tempat buat narsis, tapi aku gak sempat selfie. Udah gak tahan – kabur cari toilet. Ada hal yang terlupakan mengenai perbedaan waktu Jakarta – Bali. Waktu liburan lenyap satu jam. *Hikss… sedih tahu. Satu jam juga berharga*

Pura Ulun Danu Bratan

Perjalanan hari pertama, mengunjungi Bedugul. Sekejap, rintik hujan menyambut kedatangan kami. Tapi tenang saja hujan tak menjadi penghalang karena sudah sedia payung sebelumnya. *horeee* eh, taunya cuma sekelebat aja tuh hujan, sekedar numpang lewat atau memang sengaja menyapa kami – anggap saja begitu. Soalnya pas di kebun stroberi gak hujan loh, tepat di pintu loket hujan menerpa. Di Bedugul ini ada Danau Bratan dan pura bernama Pura Ulun Danu Bratan.

Tanah Lot

Setelah dari Bedugul langsung deh ke Tanah Lot. Tadinya mau mampir dulu ke kebun stroberi yang jaraknya gak begitu jauh dari Puri Ulun Danu Bratan. Tapi karena ingin mengejar sunset, akhirnya langsung cus ke tempat yang gak kalah ramenya dari Bedugul. Tanah Lot.


Di Tanah Lot juga ada Pura yaitu Pura Tanah Lot dan Pura Karang Bolong.  Juga, waktu di mobil Bli Dika - tour guide, bercerita tentang ular suci yang ada di Tanah Lot, aku jadi penasaran dong ular sucinya kaya gimana. Habis keliling bentar baru deh turun ke bawah lihat si ular yang konon kalau kita pegang bikin enteng jodoh *para jomblower silahkan merapat*…. Yah, saya ternyata memang dasarnya gak suka hewan reptil satu ini, pas coba megang geli-geli gimana gitu. 

Lokasi Ular Suci

Tak lama sunset yang dinantikan pun tiba untuk kembali ke peraduan.


Sabtu dilalui dengan penuh kebanggaan. Walau ada kejadian memalukan yang menimpa saat di Tanah Lot. Sebelum melihat ular suci, foto-foto gitu dipinggir laut. Seperti kami, para pengunjung yang semakin bejibun sepertinya sedang menanti sunset. Kondisi saat itu memang sedang ramai-ramainya dan 'Brugh!' aku terpeleset di depan para turis. Apes Banget! Sempat ada orang India yang mau bantuin tapi refleks aku lagsung berdiri sambil nyengir. Iyah, malu soalnya sampai rasa sakit di pantat tak terasa sama sekali. Terasa sakitnya saat kembali ke hotel. Itu semua gara-gara batu karang yang licin dan aku pakai sandal. Pelajaran penting kalau ke laut harus lebih hati-hati dan tidak pakai sandal. *Nyeker ajalah nyeker*

Minggu pagi, membaur dengan hangatnya mentari pagi di pantai belakang hotel. Setelah sarapan, perjalanan kembali ke Tanah Lot. Jujur nih, sebenarnya pengen ke tempat lain, namun karena yang dari Jepang tiba di Indonesia sabtu malam aku hanya mengiyakan aja – mau bagaimana lagi.



Waktu terus bergulir setelah dari Tanah Lot, kami mengunjungi Ubud. Ubud memang tempat yang bisa bikin kantong kering. Dengan usaha jaga hati dan mata aku malah jadi guide buat nawar harga. Hahahhaaa…….. 

Numpang Selfie di Pasar Ubud

Perjalanan di Bali pun berakhir dan sudah saatnya kembali ke Jakarta. Memang perjalanan kali ini mengejar waktu. Lain hari pengen kembali ke sana menengok jejak yang kutinggalkan tadi. Barangkali bayangan pantatku masih tercetak di sana. Bwahahahaa… *Hazukashi dayo......* 

__________________________
Mari sediakan waktu untuk traveling! 
Jangan lupa untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak lingkungan.
Happy Time.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent

recentposts

Random

randomposts