Internet, Wadah Bagi Hobi Anak



Sejak game Pokemon Go resmi dirilis, masyarakat Indonesia ikut heboh dan berbondong-bondong memainkannya. Gak hanya anak muda, emak-emak hingga bapak-bapak pun ikutan main game yang dirilis oleh Nintendo ini. Gak menutup hati, saya juga ikut ketularan ko.

Lama kelamaan ada rasa jenuh karena harus berjalan kaki hanya untuk megejar pokemon. Bukan berarti saya tidak suka jalan kaki, hanya saja waktu tidak mendukung - alias sibuk kerja. Alhasil saya malah cepet bosan.

Di tengah booming-nya Pokemon Go gak sengaja nemu berita di hai-online.com mengenai game yang dibuat oleh anak Indonesia, “Jejak Si Joki”. Jejak Si Joki dibuat oleh murid sekolah SMK Telkom Malang. Sebagai warga negara Indonesia, saya sangat bangga dengan hasil karya satu ini, dan langsung instal deh. Game yang dibuat oleh ketiga murid kelas XII ini sangat unik dan Indonesia banget.


Tidak sekedar alat untuk hiburan belaka, Jejak Si Joki bisa untuk edukasi juga. Joki akan mengajak kita keliling Indonesia dan mengenal kebudayaan tiap daerah. Diawali stage 1 dari Papua, lalu di Stage berikutnya akan ada pertanyaan mengenai tarian has daerah tersebut. Pun, costume si Joki akan berubah sesuai pakaian adat daerah yang dikunjungi.




Ide yang diangkat gak kalah keren kan dengan Pokemon Go? Main Jejak Si Joki sangat mudah dan gak harus nyebrang lintas pulau. Seperti susahnya cari Pikachu, sampe muter-muterin komplek, eh taunya malah ada di kolong kursi. Emang ngerjain banget! Jika tidak ada wadah yang tepat dan sesuai, baik Pokemon Go yang mengandalkan gps maupun game garapan siswa-siswi SMK ini akan mengalami hambatan atau bahkan tidak akan diciptakan. Untunglah ada internet yang mampu menampung banyak hal.

Dalam tulisan Mba Indah Julianti Sibaranti mengenai Internet, Anak dan Orang Tua terdapat pembahasan mengenai Digital Native. Dimana anak yang baru belajar menulis sudah mengenal internet. Anak-anak sekarang kan sudah tak awam dengan gadet, beda jauh dengan generasi 90’n seperti saya. Dan atau generasi sebelumnya. Gadget itu barang mewah seperti beli motor.   

Sedangkan sekarang gadget termasuk kebutuhan primer karena barang elektronik ini sangat membantu dalam aktifitas sehari-hari. Buktinya setiap orang punya lebih satu gadget khusus untuk kerja dan pribadi. Berimbaslah pada anak-anak karena orang tua dan lingkungan di sekitarnya tak pernah lepas dari smartphone, tablet dan lainnya. Ditambah kehadiran internet yang semakin memudahkan segalanya.

Dari segudang manfaatnya, hal positif yang bisa diambil dari internet adalah menjadikan wadah untuk mengembangkan bakat atau hobi anak. Banyak orang tua yang menggunakan internet untuk berbagi mengenai parenting, traveling dan konten lainnya yang dinikmati khalayak banyak. Begitupun yang harusnya dilakukan terhadap anak. Membimbing mereka untuk menggunakan internet sebaik mungkin. Seperti memanfaatkan sosial media atau aplikasi lainnya untuk menyalurkan hobi mereka.

Kalau anak senang bernyanyi dan suaranya memang bagus, bisa upload di youtube atau media sosial lainnya. Barangkali ada agensi yang melirik seperti Justin Bieber – ngarep nih. Untuk anak yang hobi gambar, ada webtoon untuk berbagi hasil karyanya. Atau mengikuti lomba-lomba di media sosial. Kalau kata Mba Inne dalam artikelnya Internet : Medan PerangKonten, Internet itu hanya alat, kitalah yang mengendalikannya. Ibarat cinta nih ya Jangan terlalu terobsesi pada cinta. Sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya *ekhm*.  

 Walau begitu hal berikut ini harus diperhatikan orang tua.

1.       Waspada
Internet ini kan yang menggunakannya publik tak memandang b
ulu dari orang baik hingga teroris. Siapa pun bisa memanfaatkan foto anak untuk yang sering posting foto anaknya. Klaim hak cipta hasil karya anak. Artikel kita aja kadang ada yang seenaknya copi paste tanpa mencantumkan link aslinya. Belum lagi banyaknya oknum-oknum yang berniat jahat. Karenanya orang tua harus menyalakan radar kewaspadaan.

2.      Pemahaman dan Pengawasan
Orang tua harus memberikan pemahaman mengani internet dan mengawasinya. Apalagi saat menggunakan sosmed yang sering banget muncul iklan atau berita yang mengandung unsur sara. Bagaimana cara mengawasinya? Karena gak mungkin tiap detik mengawasi apalagi orang tua kantoran. Setidaknya sekali-kali tanyakan apa yang mereka dapatkan dari internet. Tapi jangan terkesan menginterogasi, bicaralah dari hati ke hati. Jadiah teman anak-anak yang baik.

3.      Kepercayaan
Anak kan mudah banget percaya terhadap informasi yang diterima tanpa 
adanya filter. Tugas orang tua lah untuk memberi pemahaman, agar setiap informasi yang masuk harus di cek dulu kebenarannya. Barangkali hoax doang. Sudah tak aneh banyak situs yang menyebar berita-berita hoax demi mendongkrak jumlah pengunjung.

 _______________________________
Tulisan ini dibuat untuk menanggapi artikel mengenai Internet, Anak dan Orang Tua dalam Collaborative Blogging (Season 1) group 2, Kumpulan Emak2 Blogger. 



4 komentar:

  1. Dari segi penyerapan ilmu, teknologi bagi anak/remaja memang lebih banyak positif-nya dibanding negatif.

    Contoh, sepupu kecil saya, yang masih kelas 2 SMP, di lemarinya udah ada koleksi buku macam Dilan, The Fault In Our Stars dsb.

    Ini bener2 sangat mencengangkan (dalam arti positif). Sedangkan saya, di umur segitu bacaannya palingan komik Conan. Kalo novel juga paling Teenlit yang ringan2. Haha keren dah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya di umur segitu hanya mengenal katak dan sawah.
      Maklum di Gunung gak ada internet. :'(

      Hapus
  2. Baru tau ada jejak si joki :D *duh maap, fokusku*

    BalasHapus

Recent

recentposts

Random

randomposts