Pesta Fiksi #25Januari - Sang Waktu

Sketsa oleh Edmalia

Hey, kalian lihat? Lihatlah wanita itu! Ya. Wanita yang tengah membelakangiku, menghadapkan pandangannya ke luar sana. Tapi, tidak dengan isi kepalanya. Pikirannya berkelana ke tempat yang begitu nista, hatinya gelap berlumur amarah, seperti hujan dan petir yang menyatu, tersapu sorotan mata kepiluan itu.

Kalian tahu siapa wanita itu? Dia adalah wanita yang paling aku sukai di antara lautan manusia lainnya. Waktu adalah hidupnya, dalam setiap hembusan nafasnya tak pernah dia sia-siakan, semuanya harus bermakna dan sesuai jarum jam yang selalu dia setel disetiap ambisinya. Tidak pernah melenceng, dia sangat menghargaiku.

Namun, 3 bulan yang lalu tepat pukul 12 malam, waktunya berhenti. Sesuatu mengambil kesempurnaan yang dia jaga. Dan satu-satunya barang berharga yang tidak bisa dia berikan sembarangan dirampas paksa, tanpa belas kasih, tanpa kelembutan, hanya berlumur gairah setan yang menyelimuti tubuh kekar lelaki brengsek itu. Lelaki yang jadi pengganti ayahnya.

Kini, dia mengabaikanku. Mencaci makiku, terkadang membantingku. Lalu menggantinya dengan yang baru. Aku pasrah, setidaknya dia masih memperhatikanku walau dengan cara yang berbeda.

Anehnya hari ini aku merasakan kegelapan tengah merasuki seluruh hidupnya. Kabut hitam tiba-tiba menyeruak masuk melalui urat-urat nadinya. Menjalar menuju pecahan-pecahan hati yang semakin tak bersisa. Dengan tangan berlumur penyesalan, dia meraihku lalu membanting keras ke lantai tanpa, kaca pelindung jarumku pecah berserakan.

Dia kembali meraihku, buliran air berjatuhan dari kelopak matanya. Isak tangis menderu, memenuhi gendang telingaku. Sangat keras, seperti nada sopran yang melengking menembus keramaian.

“Maafkan aku. Kautidak bersalah. Tapi……” pilu dari setiap intonasinya membuatku iba.
Dengan sekejap air matanya kering, aku melihat kilatan tajam di bola mata coklatnya. Dia menarik paksa jarum yang selama ini membantuku mengendalikan dunia; termasuk dunianya. 

"Kautahu? Aku membencimu. Aku membenci waktu yang mengendalikan kehidupan. Kaumemang BRENGSEK! aku mengikutimu dengan baik seperti kedua jarum ini yang selalu berputar. Tapi, tapi, kenapa kaumerampas hidup terbaikku? Inikah balasannya? Dan ini balasan untukmu.'' Lanjutnya.

Lagi. Dia melemparku ke lantai. Namun, tidak dengan kedua jarumku, tanpa keraguan dan rasa sakit dia menyobek urat nadinya. Kedua jarumku berlumur darah. Dia tergeletak di kasurnya dengan sunggingan tipis seolah mengejekku.

“Kaubenar. Aku memang BRENGSEK! Tapi, asal kautahu masih ada manusia sepertimu dan aku tidak menyesali kepergianmu.”

___________________ Flash Fiction __________________
348 Kata

Dipersembahkan untuk ulang tahun Monday Flash Fiction yang ke-3

3 komentar:

Recent

recentposts

Random

randomposts