Prompt #100 - Merindukan Partitur


Rumah ini tidak pernah sepi, bahkan sebelum aku terlahir. Alunan nada bergema menembus setiap ruang, menerobos keheningan dan kesunyian. Komposisi partitur yang mengalun lembut, naik-turun tanpa cacat. Seperti jarum jam yang berdetak sesuai proporsinya dan bumi yang berputar pada porosnya, Keduanya bersenandung, menyatukan satu demi satu nada yang keluar. 

Semua yang datang ke rumah begitu menyukainya, kakek, nenek, paman, bibi, tante, om, teman-temanku, semuanya begitu antusias ketika Ayah dengan pianonya menekan not-not balok putih dan hitam yang warnanya semakin pudar terbawa masa, sedangkan Ibu dengan suara soprannya bersenandung ria. Kecuali, diriku. Aku bukannya tidak suka dengan musik Ayah dan Ibu. Tidak ada alasan yang tepat, hanya pendengaranku yang selalu risih dan bosan dengan musik klasik. 

Hingga, selama 100 hari ini, tidak ada lagi partitur yang meramaikan rumah, tidak ada lagi suara sopran yang mengalun merdu, hanya syair-syair yang disenandungkan untuk keselamatan di alam baka. Rumah ini mati, aura kelam menyeruak masuk membunuh nada-nada yang berkeliaran dan menari riang. Lenyap, terhempas angin, lalu hancur menjadi serpihan-serpihan saat berbenturan dengan atmosfer bumi.

Dan, hari ke 100 ini, aku mendapati Ibu dengan tatapan nanar sambil memeluk foto kecilku. Kami bertiga, Ayah, Ibu dan Aku terlihat begitu bahagia. Aku ingat betul, waktu itu Ayah dan Ibu menyanyikan senandung lagu kesukaanku “Twinkle Twinkle Little Star”. "Jika ayah dan ibu pergi kami akan menjadi bintang." Ucap ayah waktu itu. Ya, aku harap ayah dan ibu menjadi bintang, tidak seperti diriku yang hanya berbaring di ruangan sempit ini.

“Maaf kan Ibu nak, tidak mendengarkan keluhanmu. Ibu dan Ayah begitu egois tak mengerti perasaanmu. hingga kauberpulang ayah dan ibu hanya mengecewakanmu.”

Tidak ibu, itu tidak benar. Akulah yang mengecewakan ayah dan ibu. Aku menyesal ibu, tidak mau memahami musik kalian, dan sekarang aku merindukan komposisi partitur itu, di sini, rumah baruku yang sempit, semuanya gelap, sunyi tanpa nada, tanpa suara, hanya decitan rayap-rayap dan makhluk tanah yang menemaniku. Ibu aku benar-benar menyesal dan merindukan lagu kalian. Bernyanyilah bu, agar kepergianku tak sia-sia. 

“Maafkan ibu.”
Dan, berhentilah meminta maaf bu.
 
_______________________Flash Fiction_______________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent

recentposts

Random

randomposts