Ahmad Jumalisi, Guru SDN Cikedung - Mengajar Sejak Kelas dari Bilik Hingga Menjadi Bangunan Permanen

Oleh : Jermaine A Tirtadewa, Jurnalis Banten Pos


Menyusuri jalan berbukit, berlubang, berlumpur, dan berbatu besar sepanjang 15 kilometer menjadi runititasya sehari-hari. Namun perjalan menguras tenaga itu terus dilakukannya untuk tetap bisa bertemu dengan murid-muridnya.

Ahmad Jumalisi adalah seorang guru di SDN Cikedung yang secara geografis berada di Kampung Cikedung, Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Untuk sampai ke tempat mengajarnya bukanlah pekerjaan yang mudah karena membutuhkan kesabaran, kesiapan fisik, dan keahlian berkendara yang handal.





Keahlian berkendara yang handal? Mengapa demikian? Tentu jawabannya adalah karena akses jalan ke sana sangat sulit diakses dengan kendaraan roda dua.

Akses termudah untuk ke sana adalah melalui Kota Serang via Jalan Taktakan-Anyar hingga sampai di Kantor Kecamatan Mancak. Dari sana berjalan kembali ke arah Anyar sekitar 100 sampai bertemu pertigaan dan untuk belok ke kiri dan dari sini lah keahlian berkendara diuji.

Setelah berbelok kenikmatan aspal mulus pun langsung tergantikan dengan jalan berlubang dan berbatu besar sebagai ujian pertama dengan kondisi tanjakan dan turunan. Saat ujian pertama ini, BANPOS kurang beruntung karena saat itu hujan turun cukup deras sehingga membuat jalan menjadi licin.

Dua kilometer perjalan ujian pertama pun terlewati dan kini ujian kedua pun dimulai berupa jalan berlumpur dan berbukit. Hujan yang turun membuat endapan lumpur menjadi liar yang segan menjatuhkan pengendara yang kehilangan fokus.

Merasa perjalan cukup menguras tenaga, BANPOS berpikir lokasi SDN Cikedung sudah dekat. Tetapi prediksi itu dimentahkan warga setempat. “Cikedung? Eta mah masih tebih pisan atuh (Cikedung? Itu masih sangat jauh). Kahade jalan na awon (Hati-hati jalannya jelek),” ujar seorang warga sambil melanjutkan perjalannya dengan menggendong satu karung rerumputan.

Perjalanan pun berlanjut dan nyata saja nasihat warga tadi tidak meleset sedikit pun. Ujian berikutnya adalah turunan curam, BANPOS pun harus mencengkram tuas rem sekuat tenaga agar laju kendaraan tidak terlalu kencang. Meski turunan curam tersebut cukup mulus karena berupa beton hasil program bedah desa Pemkab Serang pada 2012 namun kondisinya sudah banyak berlubang.

Otot bahu pun mulai pegal menahan gravitasi akibat turunan panjang tersebut yang seolah tanpa ada ujung. Saat menyusuri setapak demi setapak turunan BANPOS terhitung telah berpapasan sebanyak empat kali dengan warga setempat yang sedang mengelola lahan garapannya. Namun perkataan yang terlontar dari mereka sama “Kade a kade (hati-hati kakak hati-hati)” seolah mereka tahu kalau wartawan BANPOS adalah orang baru yang tidak biasa menuruni jalan tersebut.

Habis melahap turunan curam ternyata ujian keahlian berkendara belum juga selesai. Ujian kali ini adalah jalan berbatu besar, jalan ini tidak ada aspal sama sekali sehingga jalan satu-satunya untuk melewatinya adalah memacu kendaraan diatas hamparan batu-batu besar tersebut.

Jalan bergelombang akibat hamparan batu besar seolah membuat perut terasa dikocok-kocok. Otot bahu makin panas menahan stang motor agar tetap stabil dan tidak terjatuh mengingat sepanjang jalan tidak ada pemukiman warga sama sekali. Rasa jenuh pun mulai menghinggap karena sudah 30 menit berjalan namun belum juga menemukan tanda-tanda adanya pemukiman warga.

Dengan tenaga yang tersisa akhirnya BANPOS berhasil sampai ke pemukiman warga yang menandakan sudah sampai ke Desa Cikedung. Titik tersebut juga menandakan jika ujian pun berakhir karena lokasi SDN Cikedung tak jauh dari situ.


Secara fisik, bangunan sekolah sudah cukup bagus di mana seluruh ruang kelas hingga perpustakaan sudah permanen. Memasuki halaman sekolah BANPOS langsung disambut oleh Ahmad Jumalisi yang memang sebelumnya kami sudah membuat janji untuk bertemu.

Perbincangan kami berlanjut di ruang kepala sekolah yang ternyata BANPOS pun disambut oleh Kepala SDN Cikedung, Sobari. Segelas kopi hitam menemani perbincangan kami yang mulai mencair dengan beberapa guyonan yang terucap.

Jumalisi pun menceritakan, jika dia sudah 15 tahun lamanya mengajar di SDN Cikedung tepatnya sejak 2000 ketika dirinya masih berstatus guru honorer dan diangkat menjadi PNS pada 2007. “Di sini saya sudah sejak 2000, waktu itu saya masih guru honorer sampai sekarang belum pindah-pindah,” ujarnya.

Banyak suka dan duka yang dialami selama mengajar di sana. Tetapi yang paling terekam jelas dalam ingatannya adalah pengalaman mengajar di awal tahun karirnya sebagai guru. Saat itu kondisi Desa Cikedung tidak seperti sekarang, dahulu jalan menuju desa adalah jalan setapak dengan rerumputan yang menutupi jalan.

“Dulu kalau berangkat ke sekolah dari rumah di Desa Sangiang, Kecamatan Mancak itu naik ojeg sampai turunan curam yang sekarang dibeton pukul 05.30 WIB. Dari situ jalan bersama para petani, baju dan celana saya masukan ke tas supaya tidak basah karena embun menempel di rerumputan yang menutupi jalan. Kondisi sekolah juga masih bilik, jumlah murid cuma satu atau dua saja,” katanya.

Pada 2004, perubahan mulai terjadi di mana sudah ada pelebaran jalan namun sayangnya tidak disertai pengerasan jalan. Akibatnya, jalan menjadi licin ketika musim hujan karena saat ini jalan masih tanah merah.

“Saya sering nangis kalau hujan karena gak bisa pulang, motor gak bisa nanjak. Kalau ingin pulang harus berdua, satu di atas motor satu yang dorong motor. Kalau jatuh dari motor sudah gak bisa dihitung itu, makannya untuk menjaga keselamatan saya sering menginap di sekolah, pulang ke rumah setengah bulan sekali,” ungkap ayah dua anak ini sambil tertawa.

Sejumlah perubahan desa dan sekolah dari tahun ke tahun pun dialaminya, dari jalan setapak hingga jalan lebar, dari sekolah berdinding bilik hingga berdinding bata berlapis semen. Dia adalah saksi hidup perkembangan yang terjadi.

“Kalau sekarang ke Cikedung sudah gak ada yang aneh, mobil sudah ada yang masuk, ke sekolah pulang pergi sudah bisa,” katanya.

Dari semua perubahan yang terjadi ada satu hal yang tidak pernah berubah yaitu kebersamaan yang terjalin. Baik murid dan orang tua siswa sudah dianggap menjadi bagian dari keluarganya sehingga membuatnya merasa anak didiknya adalah anak kandungnya sendiri yang secara tak langsung menjadi penyemangat mengajar di SDN Cikedung.

“Meski sudah bisa masuk mobil tapi saya masih saja suka jatuh dari motor tapi semua rasa lelah dan sakit itu terobati ketika melihat senyum anak-anak di kelas,” tutur guru kelas VI tersebut.



Tak Ingin Dipindah Sebelum Melihat Muridnya Berhasil

Meski sudah lama mengajar di SD terpencil namun Jumalisi mengaku, belum memiliki niat untuk meninggalkan SDN Cikedung. Dia baru secara ikhlas pindah sekolah jika sudah melihat anak didiknya berhasil.

“Kalau pindah sekolah nanti dulu, saya ingin memberikan yang terbaik dulu untuk sekolah. Saya ingin lihat anak didik saya ada yang berhasil mau jadi polisi atau PNS. Kalau sekarang memang belum dan saya akan menunggu sampai itu ada,” katanya.

Kalau pun mau dipindah, kata dia, dinas akan kesulitan mencari penggantinya. “Sekarang tenaga pengajar ada enam untuk enam rombel dengan jumlah 208 murid. Dari enam pengajar hanya saya yang PNS. Saya bisa menerima pindah tapi apa yang dipindah ke sini mau?,” ujarnya.`

Menurutnya, ada rasa bangga tersendiri ketika mendapat informasi jika mantan anak didiknya sudah mendapat pekerjaan tetap lantaran sulitnya mendapat pekerjaan layak di Desa Cikedung. Tak hanya itu, dirinya sangat bangga ketika mendapat informasi jika mantan anak didiknya bekerja di luar negeri meski sebagai TKI.

“Saya pernah dapat telepon dari mantan murid saya, katanya dia ada di Arab Saudi jadi TKI. Di situ saya sangat bangga sekali, anak Desa Cikedung kini bisa ke luar negeri, sudah bisa naik pesawat, padahal gurunya belum pernah, bahkan meihat pesawat secara langsung pun belum pernah,” ungkapnya. (*)



Profil Ahmad Jumalisi

Nama  : Ahmad Jumalisi S.pd
Tempat, tanggal lahir : Serang, 22 Januari 1971
Istri : Sopiyah
Anak  : Siti Zulfiah
                       Ahmad Mudai
Karir  : Guru honorer SDN Cikedung 2000-2007
 Guru kelas PNS SDN Cikedung 2007-sekarang
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent

recentposts

Random

randomposts